Al-Quran bukan hanya memberikan pemahaman atas penelitian obyektif nalar pembacanya, tetapi akan mengungkapkan emosi, pengalaman, psikologi dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya. Al-Quran bahkan menampilkan dirinya seolah-olah diturunkan kepada pembacanya, bahkan al-Quran membaca sang pembaca itu sendiri. Al-Quran adalah rangkaian untaian mutiara hubungan antara Sang Kholiq dan makhluq-Nya : Yang tak terbatas dan yang terbatas, Yang sempurna dan yang tak sempurna, Yang kekal dan yang fana, dan seterusnya. Di lihat dari sisi manapun, al-Quran akan tampak berkilauan cahayanya. Paduan antara janji-ancaman, perintah-larangan, siksa-rahmat, cinta ilahi yang manusiawi, ikhtiar-kepasrahan, dan runtutan sejarah dan masa depan yang berkolaborasi dengan masa di mana sang pembaca menikmatinya. Gabungan antara hukum-hukum manusia dan sunnatullah, sifat-sifat kemahakuasaan-Nya yang tak terjangkau oleh nalar tapi terasa dalam resapan perasaan manusia. Tidak akan lekang oleh panas, tidak akan lapuk oleh hujan, bahkan tidak akan habis diambil mutiara yang terdapat di dalamnya. Al-Quran membuang bayang-bayang palsu yang dibuat oleh pembacanya. Menampilkan kejujuran manusia yang bersifat ilahiah. Ah... tak kan habis kita bicara tentang al-Quran. Kita harus siap ditransformasi oleh kitab suci ini. Al-Quran itu dekat tapi tak teraih, jauh tapi terasa. Rangkaian, prosa berima, prosa bebas, puisi, dialog, narasi, deskriptik, dan musik jiwa. Aliran pengetahuan yang tiada putus-putusnya. Kadang tenang penuh misteri, beriak penuh intrik, bahkan bergelombang penuh kejutan. Tiada yang terlewat oleh al-Quran, samar-samar dan tampak nyata terajut menjadi satu kesatuan yang tak terbantahkan.