Wednesday, 30 March 2011

Kejadian Manusia

Menurut al-Quran, asal penciptaan manusia terdiri dari berbagai proses kejadian :
1.) S. Ar-Rohmaan ayat 14 : Dia menjadikan manusia dari tanah keras seperti tembikar (min shal-shalin kal fakhkhar / tanah yang dibakar). Maksud dari (shal-shal) tanah di sini adalah zat pembakar (oksigen).
2.) Masih menurut ayat di atas, maksudnya "fakhkhar" adalah zat arang (carbonium)
3.) S. Al-Hijr ayat 28 : Sesungguhnya Aku (Allah) hendak membuat manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk rupa. Shal-shal sudah diternagkan di atas, sedangkan "hamaa-in" maksudnya adalah zat lemas (nitrogen)
4.) S. As-Sajdah ayat 7 : Dan (Allah) membuat manusia (Adam) dari tanah (thin). maksud dari tanah (thin) di sini adalah zat air (hidrogen). Sedangkan keturunannya dijadikan dari "maa-in mahin" (air mani / air yang hina)
5.) S. Ash-Shoffaat ayat 11 : Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia dari tanah liat (lazib). Adapun yang dimaksud dengan "lazib" (tanah liat) adalah zat besi (ferum)
6.) S. Ali Imran ayat 59 : Dia (Allah) menjadikan Adam dari "tanah" (turob). Maksud dari "turob" (tanah) adalah unsur-unsur asli mineral yang terdapat di dalam tanah.
Kejadian manusia (Adam) di atas merupakan asal-usul kejadian yang berupa zat-zat yang membentuk fisik manusia belum termasuk ayat-ayat yang berkaitan dengan proses di dalam rahim maupun ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat manusia.
    

Thursday, 24 March 2011

Taqorrub



"mencintai selain-Nya adalah pahit"


Dzikir (ingat kepada Allah) - Fikr (bisa berfikir tentang kekuasaan-Nya karena hatinya hidup) - Ma'rifat (mengerti kemampuannya sendiri dalam kelemahan dan mengerti sejatinya siapa Allah) - Mahabbah (cinta kepada Allah) - Syauq (hatinya terpesona/rindu kepada Allah). Adanya orang tidak bisa merasakan nikmat beribadah karena melupakan-Nya dan tidak pernah berfikir tentang kekuasaan-Nya serta kurang bersyukur, tidak cinta kepada-Nya, tidak merindukan-Nya. 

bagaimana mungkin rindu dan cinta bersemi di hatimu, kalau mengingat dan memikirkan-Nya saja kamu enggan... kamu terjebak dalam ilusi angan-anganmu sendiri tanpa pernah mau berkorban untuk-Nya, ibadahmu hanya karena demi memenuhi keinginanmu, bukan karena murni ikhlas, hati-hatilah... jangan tertipu oleh kebodohan bayang-bayang keakuanmu

Keadaan orang yang berdzikir dengan lalai lebih baik daripada tanpa dzikir sama sekali, karena diharapkan dengan dzikir dalam lalai bisa mengantar hati menuju dzikir dengan hadirnya hati. Selanjutnya agar sampai pada tujuan terakhir bahwa tiada siapapun kecuali Dia. "Ilaa robbika muntahaha"  

Monday, 14 March 2011

Nuansa Rohani

"Suasana kerohanian tidak hanya apa yang bisa diceritakan tetapi juga apa yang bisa dirasakan"

Kalau ada bayangan dan angan-angan yang bisa dinalar maka itu bukan dari-Nya. Manusia dipenjara oleh dirinya sendiri dan keinginan-keinginan diri. Bisanya lepas dari penjara diri adalah dengan penyaksian akan keagungan Allah. Kadang-kadang Allah memberi rahmat dan nikmat yang menurut nafsu suatu hal yang tidak menyenangkan.

Thursday, 3 March 2011

AMAL dan HATI


"Amal yang diterima itu, akan diangkat oleh Allah dan akan disembunyikan darimu agar kamu tidak merasa ujub dan riya. Ilaihi yas'adul kalimuth thoyyibu wal 'amalush sholihu yarfa'uh" 
Tidak ada amal yang lebih diharapkan kecuali sirnanya amal itu, tetapi manusia harus dalam keadaan terus beramal. Amal yang baik dan diterima itu adalah amal yang kamu merasa tidak melakukan amal, yang terpenting bukan wujudnya amal itu, tetapi ketundukkan hatimu terhadap perintah Allah dan hati tidak diperbudak oleh amalmu sendiri, karena amal bisa menjadi hijab dari Allah. Kalo hati bisa lepas dari menghitung amal maka dia selalu bersama Allah tidak bersama dirinya sendiri. Biarlah amal itu yang tampak di hadapan orang lain, bukan karena keinginan dirimu yang beramal dilihat orang banyak. Hati akan rela kalo amal yang sama dilakukan oleh orang lain, tidak terbujuk oleh kebanggaan pada amalnya itu. Amal yang diharapkan oleh hati adalah amal yang tidak tampak di dalam hati. Banyak orang terutama dari kalangan ahli tasawwuf yang tertipu oleh amalnya sendiri. Justru orang yang beramal itu tidak peduli dengan amalnya itu, kalo dia melihat amalnya maka amalnya itu akan rusak (tidak diterima) seperti orang naik sepeda yang tidak melihat sepedanya sendiri, jika dia melihat sepedanya maka akan terjadi tabrakan. Syarat amal diterima adalah amal yang selamat dari perusak amal dengan mencurigai nafsu yang meminta haknya atau melihat kesembronoannya. Hilangnya penyaksian terhadap amal yang telah dilakukan dan hati tidak menghitung-hitung amalnya itu. Amal itu termasuk sesuatu selain Allah. Jadi amal yang sudah tidak diperhitungkan menjadikan hati baik dan lepas dari keburukan hati (dipuji dan dihina). Kalo orang itu sudah tenggelam dalam amalnya maka dia akan selalu bersama Allah. Bukan bagaimana seseorang melakukan amal tetapi bagaimana amal itu menampakkan kebesaran Allah. Bukan bagaimana seseorang membaca sholawat, tetapi bagaimana sholawat itu dapat tersiar   di muka bumi. Jadi bagaimana caranya agar cahaya Allah bisa tampak di mana-mana. Sydn Ali bin Husein berkata : kullu syain min af'alika idzat tasholat bihi ru'yatuka fadzalika dalilun 'ala annahu la yuqbalu minka.